Minggu, 20 November 2011

PEMERIKSAAN FISIK 2 hendra


PEMERIKSAAN FISIK 

Pemeriksaan Kepala dan Leher
Pemeriksaan kepala dan leher dilakukan dengan pasien duduk menghadap padapemeriksa. Pemeriksaan terdiri atas inspeksi dan palpasi.
Pada inspeksi, amati posisi kepala. Apakah kepala dapat ditegakkan? Apakah ada bagianmuka yang asimetris? Apakah besar kepala proporsional terhadap bagian tubuh yang lain?Periksa juga kulit kepala terhadap adanya lesi.
Perikan rambutnya. Amati mata terhadapkemungkinan proptosis. Proptosis dapat disebabkan oleh disfungsi tiroid atau oleh massa dalamorbita. Periksa leher terhadap kemungkinan asimetri. Minta pasien menjulurkan lehernya. Cari adanya luka parut, asimetri atau massa. Persilakan pasien untuk menelan, sambil mengamatigerak naik tiroid.Palpasi memastikan keterangan yang telah diperoleh dari inspeksi. Kepala dalam sikapsedikit fleksi dan ³terbuai´ dalam tangan si pemeriksa.
Semua bagian tengkorak harus dipalpasiterhadap adanya bagian yang nyeri atau massa. Bantalan jari-jari pemeriksa harus meraba kulit diatas cranium secara melingkar-lingkar untuk menilai konturnya dan mencari adanya kelenjar limfe atau massa.

Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan fisik pada mata meliputi tajam penglihatan, lapangan pandangan, gerakanmata, struktur mata interna dan eksterna, pemeriksaan oftalmoskopi.
Tajam penglihatan diungkapkan dalam suatu rasio, seperti 20/20. Angka pertama adalahjarak baca pasien terhadap peraga. Angka kedua adalah jarak terbacanya peraga oleh matanormal. Istilah OD berarti mata kanan, OS mata kiri. OU berarti kedua mata.
Uji lapangan pandangan berguna untuk menetapkan lesi pada jalur penglihatan untuk ini.Terdapat banyak teknik. Adalah penting agar si pemeriksa mempelajari teknik yang dikenalsebagai ³ uji lapangan pandangan konfrontasi.
Pada teknik ini pemeriksa membandingkanpenglihatan perifernya dengan penglihatan perifer pasien.
Gerak mata dipengaruhi oleh kontraksi dan relaksasi otot-otot ekstra ocular. Hal iniberakibat bergeraknya mata ke atas atau ke bawah, atau dari sisi ke sisi dan juga konvergensi.
Pemeriksaan gerak mata meliputi pemeriksaan kesesuaian mata, melakukan uji tutup, menilaiposisi utama pandangan mata, menilai refleks cahaya pupil, dan menilai refleks dekat.
Pemeriksaan Eksternal dan Internal mata meliputi kelopak mata, konjungtiva, sclera,kornea, pupil, iris, kamera okuli anterior, dan apparatus lakrimal.Pemeriksaan kelopak mata terhadap kemungkinan kelemahan, infeksi, tumor, ataukelainan. Tidak boleh ada edema atau minta pasien membuka dan menutup matanya.
Gerakan itu harus lancer dan simetris. Konjungtiva hendaknya diamati terhadap adanya radang, pigmentasitidak biasa, nodi, pembengkakan, atau perdarahan. Kedua konjungtiva harus diperiksa.Konjungtiva normal seharusnya berwarna merah muda. Perhatikan jumlah pembuluh darah.Normalnya hanya terlihat sedikit pembuluh darah. Mintalah pasien untuk melihat ke atas, dantariklah kelopak mata ke bawah.
Bandingkan vaskularitasnya. Sklera diperiksa untuk melihatapakah ada nodul, hyperemia, dan perubahan warna. Sklera normal seharusnya berwarna putih.Pada individu berkulit gelap. Sclera mungkin berwarna sedikit agak ³seperti lumpur´. Korneaharus jernih dan tanpa kekeruhan atau kabut. Cincin keputih-putihan pada perimeter kornea,mungkin adalah arkus senilis.
Pada pasien yang berusia di atas 40 tahun, penemuan ini biasanyamerupakan fenomena penuaan yang normal. Kedua pupil ukurannya harus sama dan bereaksiterhadap cahaya dan akomodasi. Iris diperiksa untuk warnanya, apakah ada nodul, danvaskularitas. Normalnya, pembuluh darah iris tidak terlihat dengan mata telanjang. Dengan memberikan sinar secara oblik menembus mata, perkiraan kasar kedalaman kamera okulianterior dapat dibuat.
Jika terlihat bayangan berbentuk bulan sabit pada bagian iris yang jauh,kamera okuli interior mungkin dangkal. Pendangkalan kamera okuli anterior mungkin akibatmenyempitnya ruangan antara iris dan kornea. Palpasi bola mata untuk mengetahui tekananintraocular merupakan teknik yang mempunyai sensitivitas sangat rendah. Jika palpasi dilakukandengan cara yang salah, juga akan menimbulkan kerusakan, karena dapat terjadi ablasi retina.Oleh karena itu, palpasi bola mata tidak boleh dilakukan. Lalu inspeksi apparatus lakrimalis padaumumnya, hanya sedikit yang dapat terlihat pada apparatus lakrimalis, dengan perkecualianpungtum.
Jika adaepifora , mungkin ada obstruksi aliran keluar melalui pungtum. Jika terdapat kelembaban yag berlebihan, periksalah apakah ada sumbatan duktus nasolakrimalis secaralembut, berlawanan dengan cincin orbita interna. Jika ada sumbatan, dapat dikeluarkan materi-materi melalui pungtum.

Pemeriksaan Telinga

Pemeriksaan fisik telinga mencakup pemeriksaan luar, ketajaman pendengaran,pemeriksaan otoskopik. Pemeriksaan luar dilakukan dengan inspeksi dan palpasi pada struktur telinga luar.Inspeksi pina untuk melihat ukuran, posisi, dan bentuknya. Pina harus terletak di bagian tengahdan harus sesuai dengan besarnya wajah dan kepala.
Telinga luar diperiksa untuk melihat adanyadeformitas, nodul, peradangan atau lesi. Inspeksilah untuk melihat adanya pengeluaran cairan.Jika ada pengeluaran cairan, catatlah sifat-sifatnya seperti warna, konsistensi, dan kejernihannya.Pina dipalpasi untuk mencari adanya nyeri tekan, pembengkakan, atau nodulus.Pemeriksaan ketajaman pendengaran merupakan bagian selanjutnya dari pemeriksaanfisik.
Cara termudah untuk memeriksa kehilangan daya pendengaran yang berat adalah denganmenutup satu kanalis eksternus dengan gerakan menekan ke dalam pada tragus dan berbisik kedalam telinga lainnya. Pemeriksa harus menyembunyikan mulutnya untuk menghindaripembacaan gerakan bibir oleh pasien.Pemeriksaan telinga lainnya dilakukan dengan memakai otoskop. Pilihlah ukuranspeculum yang tepat : cukup keil untuk menghindari timbulnya rasa tidak enak pada diri pasien,cukup besar untuk memberikan arus cahaya yang memadai.

Pemeriksaan Mulut

 Pasien harus di minta membuka mulutnya lebar-lebar. Mulut harus disinari dengansumber cahaya. Periksalah mukosa pipi untuk melihat lesi atau perubahan warna, dan ronggapipi diperiksa unutk melihat tanda-tanda asimetri. Mukosa pipi, gigi dan gusimudah diperiksadengan memakaispatula lidah untuk mendorongpipi menjauhi gusi. Inspeksi untuk melihatadanya perubahan warna, tanda-tanda trauma, dan keadaan orifisium duktus parotis. Dasar mulutharus diperiksa dengan palpasi bimanual. Ini dilakukan dengan meletakkan satu jaridibawahlidah dan jari lain dibawah dagu untuk memeriksa adanya penebalan atau massa.

Pemeriksaan Hidung

Pemeriksaan hidung terdiri dari pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Pemeriksaanluar dilakukan dengan inspeksi hidung dan palpasi sinus. Inspeksi hidung dilakukan untuk melihat adanya pembengkakan, trauma atau anomaly congenital.
Tiap pembengkakan ataub deformitas harus dipalpasi untuk mencari nyeri tekan dan konsistensinya. Palpasi di daerah sinusfrontalis dan maksilaris dapat memperlihatkan adanya nyeri tekan yang menunjukkan sinusitis.Pemeriksaan dalam akan berhasil jika posisi kepala dalam keadaan yang tepat. Mintalahpasien untuk menengadahkan kepalanya. Letakkan tangan kiri Anda dengan kuat pada puncak kepala pasien, dan pakailah ibu jari kiri Anda untuk mengangkat ujung hidung pasien.
Dengan cara ini Anda dapat mengubah posisi kepala pasien untuk melihat struktur-struktur intranasal.Pakailah sumber cahaya untuk menerangi struktur-struktur internal.Periksalah posisi septum terhadap tulang rawan lateral pada tiap sisi. Periksalahvestibulum untuk melihat adanya peradangan dan septum anterior untuk melihat adanya deviasiatau perforasi. Warna membrane harus diperiksa.
 Periksalah kemungkinan adanya eksudat,pembengkakan, perdarahan atau trauma. Jika terdapat epistaksis, harus dilakukan pemeriksaanarea Little dengan seksama, untuk melihat adanya pelebaran pembuluh darah atau pembentukankrusta. Dengan lebih menengadahkan kepala ke belakang, periksalah septum posterior untuk melihat adanya deviasi atau perforasi. Ukuran dan warna konka inferior harus dicatat. Keduakonka inferior jarang simetris. Periksa juga ukuran, warna, dan keadaan mukosa konka media.

Pemeriksaan Paru
Pada pemeriksaan paru, digunakan inspeksi, palpasi, dan perkusi. Dalam inspeksi, hal-halyang perlu diperhatikan adalah bentuk dada/thorax dalam keadaan statis, dada dalam keadaanbergerak, memperhatikan adakah kelainan pada ektremitas yang berhubungan dengan penyakitparu dan kelainan pada daerah kepala yang menunjukkan gangguan paru.Dalam palpasi, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : palpasi pada keadaan statis(kelenjar getah bening, trakea, letak apeks jantung, kelainan dinding dada) dan palpasi dalamkeadaan dinamis (pemeriksaan tactile/vocal fremitus).
Selanjutnya adalah perkusi. Tujuan perkusi dinding dada adalah untuk menentukan batas-batas paru, menentukan perbandingan paru kiri dan kanan, menentukan batas-batas jantung, danmenentukan apakah ada proses di dalam paru-paru.

Pemeriksaan Jantung

Pemeriksaan fisik jantung meliputi inspeksi pasien, pengukuran tekanan darah,pemeriksaan denyut arteri, pemeriksaan denyut vena jugularis, perkusi jantung, palpasi jantung,auskultasi jantung, dan pemeriksaan edema dependen.Inspeksi umum pasien sering memberikan petunjuk berharga untuk diagnosis penyakitjantung.
Apakah pasien berada dalam distress akut? Seperti apa pernapasan pasien? Apakah iabernapas dengan susah payah? Apakah memakai otot pernapasan tambahan?Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan palpasi maupun auskultasi.
Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan pasien berbaring dalam posisi supinasi dengannyaman. Kantong manset diletakkan di atas arteri brachialis kanan. Jika lengannya terlalugemuk, pakailah manset paha. Lengan sedikit direfleksikan, dan disokong kira-kira setinggijantung.
Untuk menentukan tekanan darah sistolik secara memadai dan untuk menyingkirkankesalahan karena celah auskultasi, tekanan darah mula-mula diperiksa dengan palpasi. Menurut prosedur ini, arteri brachialis atau radialis kanan dipalpasi sementara manset dipompa di atas tekanan yang diperlukan untuk menghilangkan denyut nadi.
Sekrup yang dapat diputar dibuka perlahan-lahan untuk mengurangi tekanan di dalam kantong karet secara lambat. Tekanan sistolik diketahui dengan timbulnya kembali denyut brachial. Segera setelah denyut teraba,sekrup itu dibuka untuk mengurangi tekanan kantong karet dengan cepat. Ini adalah tekanan darah sistolik.Tekanan darah diukur secara auskultasi di lengan kanan dengan memompa manset kira-kira 20 mmHg di atas tekanan sistolik yang ditentukan dengan palpasi.
Diafragma stetoskop harus diletakkan diatas arteri sedekat mungkin dengan tepi manset, sebaiknya tepat di tepi bawahmanset itu. Mansetnya dikempiskan secara perlahan-lahan, sementara Anda mengevaluasi bunyiKorotkoff.
Tekanan darah sistolik, titik meredup, dan tidak menghilangnya bunyi korotkoff ditentukan. Tekanan darah sistolik adalah titik dimana terdengar bunyi mengetuk pertama. Jikatekanan darahnya tinggi, sebaiknya diperiksa kembali pada akhir pemeriksaan fisik, ketikapasien mungkin lebih tenang.
Pemeriksaan dengan palpasi denyut arteri dilakakukan untuk memperoleh informasikecepatan dan irama jantung, kontut denyut itu, amplitudo denyut.Perkusi jantung dilakukan untuk menentukan batas-batas jantung, dan yang terakhir yaituauskultasi jantung, dimana auskultasi dilakukan dengan memperhatikan bunyi jantung, bisingjantung, dan gesekan pericard.
Pemeriksaan Abdomen

            Pemeriksaan fisik abdomen meliputi hal-hal berikut, inspeksi, auskultasi, perkusi, danpalpasi.Kontur abdomen harus diperiksa. Abdomen yang skafoid  atau konkaf, mungkinberkaitan dengan kakeksia; abdomen protuberan mungkin disebabkan oleh distensi usus olehgas, asites, organomegali, atau obesitas. Kalau seorang pasien dengan asites berdiri, cairannyamasuk ke dalam perut bawah; kalau ia berbaring terlentang, cairannya menonjol di pinggul.
Jikapasien dengan asites berbaring pada sisi tubuhnya, cairannya mengalir ke sisi yang lebih rendah.Pemeriksa harus memusatkan perhatiannya kepada abdomen untuk melukiskan secara memadaiadanya ketidaksemetrisan, distensi, massa, atau gelombang peristaltik yang dapat dilihat.
Kemudian pemeriksa harus mengamati abdomen dari atas, untuk mencari tanda-tanda yangsama. Inspeksi abdomen untuk mencari adanya stria dan parut dapat memberikan data yangberharga.Auskultasi bunyi usus dapat memberikan informasi mengenai gerakan udara dan cairandi dalam saluran cerna.
Banyak pemeriksa melakukan auskultasi abdomen sebelum perkusi ataupalpasi, berbeda dengan urutan biasa. Mereka merasa bahwa perkusi atau palpasi dapatmengubah motilitas usus; oleh karena itu mereka yakin bahwa auskultasi harus dilakukan dalamurutan pertama untuk dapat memperoleh hasil pemeriksaan bunyi usus yang lebih tepat.Perkusi dipakai untuk melihat adanya distensi gas, cairan, atau massa padat.
Pada pemeriksaan normal, biasanya hanya ukuran dan lokasi hati dan limpa yang dapat ditentukan.Sebagian pemeriksa lebih suka melakukan palpasi sebelum perkusi, terutama jika pasienmengeluh nyeri perut; kedua-duanya benar. Perkusi abdomen diawali dengan pasien berbaringterlentang. Keempat kuadran abdomen diperiksa dengan perkusi. Timpani merupakan bunyiperkusi yang paling sering ditemukan pada abdomen. Ini disebabkan oleh adanya gas di dalamlambung, usus kecil dan kolon.
Daerah suprapubis mungkin redup pada perkusi jika kandungkemih distensi atau pada wanita, jika uterusnya membesar.Palpasi abdomen biasanya dibagi menjadi palpasi ringan dan palpasi dalam. Palpasiringan dipakai untuk menemukan nyeri tekan dan daerah spasme otot atau rigiditas. Seluruhabdomen dipalpasi secara sistematis dengan menggunakan bagian rata tangan kanan ataubantalan jari tangan, bukan ujung jari. Jari-jari tangan harus disatukan, dan hindarilah gerakanmenusuk secara tiba-tiba.
Tangan harus diangkat dari satu daerah ke daerah lain, bukannya digeserkan diatas dinding perut. Palpasi dalam dipakai untuk menentukan ukuran organ dan jugaadanya massa abdomen abnormal. Pada palpasi dalam, bagian datar tangan kanan diletakkandiatas abdomen dan tangan kiri diletakkan diatas tangan kanan. Ujung jari tangan kirimemberikan tekanan, sedangkan tangan kanan mengindera setiap rangsangan taktil. Tekanankepada abdomen harus diberikan dengan ringan tetapi terus menerus. Selama palpasi dalam,pasien harus disuruh untuk bernapas perlahan-lahan melalui mulutnya dan meletakkan kedualengannya pada sisi tubuhnya.
Pemeriksaan Anus dan Rektum
Pemeriksaan rectum dilakukan dengan jari. Karena rectum anterior mempunyaipermukaan peritoneum, pemeriksaan rectum dapat mengungkapkan nyeri tekan jika adaperadangan peritoneum. Pemeriksaan rectum dapat dilakukan dengan pasien berbaringterlentang; berbaring pada sisi kiri tubuh; atau berdiri, membungkuk pada meja pemeriksaan.
Posisi berdiri merupakan posisi yang paling banyak dipakai dan dengan posisi ini dapatdilakukan inspeksi menyeluruh pada anus dan palpasi rectum. Tangan kanan pemeriksa denganmemakai sarung tangan memeriksa anus dan jaringan di sekitarnya sementara tangan kiri denganhati-hati merentangkan bokong.
Jika mencurigai adanya infeksi, kedua tangan pemeriksa harusmemakai sarung tangan. Kulit anus diperiksa untuk tanda-tanda peradangan, ekskoriasi, fisura,nodulus, fistula, parut, tumor, atau hemoroid. Setiap daerah abnormal harus dipalpasi. Pasiendiminta mengedan sementara pemeriksa menginspeksi anus untuk melihat adanya hemoroid ataufisura.

Pemeriksaan Anggota Gerak 

Meliputi pemeriksaan secara inspeksi dan palpasi. Terdiri dari anggota gerak atas danbawah
Ø  Gerak atas:
Bentuk dan ukuran :
1.      Bentuk dan ukuran tangan yang besar didapatkan pada penderita acromegaly
2.      Tangan yang kecil dan memanjang didapatkan pada insufisiensi kel. Hipofisis
3.      Odema tangan, disebabkan oleh :
a.       Glomerulonephritis
b.      Local phlebitis
c.       Bendungan pembuluh darah limfe atau darah
d.      Payah jantung yang berbaring miring
e.       Sesudah amputasi mamae
f.       Tumor-tumor pada daerah mediastinum
v  Warna Kulit :
*      Perhatikan warna kulit pucat atau normal
*      Lakukan palpasi,apakah suhu tangan sesuai dengan suhu tubuh penderita
*      Pada cirrhosis hepatis : didapatkan eritema Palmaris, yakni warna kemerahanpada telapak tangan
*      Pada pellagra : terlihat punggung tangan kemerahan,kemudian menjadi gelap danmengalami gelap dan mengalami skuamasi dan terbentuk bullae,vesikel
v  Gerakan tangan :
*      Perhatikan adanya tremor,tetani,Wrist drop
v  Deformitas :
*      Claw hand pada morbus Hansen
*      Atrofi otot interossei dan hyperextensi jari tangan,pada Rheumatoid arthritis
*      Koilonichia,bentuk kuku seperti sendok,pada lues,def.Fe,demam rematik 
*      Tampak garis-garis dibawah kuku jari : pada SBE
v  Pergelangan tangan :
*      Apakah ada tumor 
*      Ganglion
*      Ada pembengkakan,dll
Ø  Pemeriksaan anggota gerak bawah :
*      Perhatikan ukuran,posisi,dan bentuk kedua tungkai
*      Ukuran kaki yang relative lebih kecil dibandingkan ukuran perut,pada Sindroma Cushing
*      Genu varum, bentuk kaki O
*      Genu valgum, bentuk kaki X
*      Perubahan warna kulit,petechie,varicose,erythema nodosum,dll
v  Odema :
Bila oedema bilateral, disebabkan oleh:
1.      Payah jantung
2.      Nefritis kronis
3.      Tumor dalam rongga perut yang menekan vena4.
v  Pembesaran organ dalam perutBila oedema unilateral, disebabkan :
1.      Thrombosis vena femoralis
2.      Elephantiasis
3.      Phlegmasia alba dolens
4.      Metastase karsinoma prostat.